Saat memilih material untuk tas custom, kata “waterproof” terdengar seperti nilai plus yang sulit ditolak. Apalagi jika tas nantinya digunakan untuk bekerja, sekolah, commuting, event, atau aktivitas outdoor.
Masalahnya, istilah waterproof sering membuat orang langsung berasumsi bahwa selama bahan luarnya mampu menahan air, isi tas pasti aman saat hujan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebuah tas terdiri dari bahan utama, coating, jahitan, zipper, sambungan panel, lining, hingga berbagai bukaan. Jadi, Sobat Tasindo, sebelum memilih bahan waterproof untuk tas, jangan hanya melakukan tes tetesan air di atas kain.
Ada setidaknya lima hal yang perlu dipahami terlebih dahulu.
Table of Contents
Toggle1. Bedakan Water-Repellent dengan Waterproof
Ini adalah dasar yang paling penting.
Material yang membuat air terlihat membentuk butiran di permukaan belum tentu memiliki konstruksi yang benar-benar menghambat air menembus kain dalam tekanan atau durasi tertentu.
Salah satu contoh teknologi permukaan adalah DWR atau Durable Water Repellent.
GORE-TEX menjelaskan bahwa DWR merupakan treatment sangat tipis pada permukaan luar tekstil yang membantu air membentuk butiran dan menggelinding, sementara waterproofness pada produknya berasal dari membran yang berbeda. GORE-TEX juga menjelaskan bahwa DWR tidak bersifat permanen.
Artinya:
air membentuk butiran di atas bahan ≠ otomatis bahan sepenuhnya waterproof.
Saat memilih material untuk tas custom, tanyakan lebih detail:
apakah bahan hanya memiliki treatment water-repellent, menggunakan coating, laminasi, atau mempunyai spesifikasi waterproof tertentu?
Istilahnya mirip, tetapi performa yang ditawarkan bisa berbeda.
2. Jangan Menilai Waterproof Hanya dari Permukaan Kain
Kalau ingin mengetahui kemampuan material menghadapi air dengan lebih serius, spesifikasi teknis perlu diperhatikan.
Salah satu parameter yang digunakan pada produk outdoor adalah hydrostatic head, yaitu pengukuran kemampuan material menghadapi tekanan air.
Sebagai contoh, Sea to Summit mencantumkan hydrostatic head 10.000 mm pada Lightweight Dry Bag mereka. Tetapi angka itu tidak berdiri sendiri. Produk tersebut juga menggunakan polyurethane coating, roll-top closure, serta jahitan yang ditutup dengan seam tape.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting:
performa waterproof merupakan hasil dari sistem, bukan hanya permukaan kain.
Jadi, kalau supplier menawarkan bahan dengan klaim waterproof, sebaiknya jangan berhenti pada pertanyaan:
“Kalau ditetesin air, tembus nggak?”
Lebih baik tanyakan juga mengenai coating, konstruksi material, spesifikasi pengujian jika tersedia, serta jenis pemakaian yang direkomendasikan.
3. Bahan Waterproof Tetap Akan Dilubangi Saat Dijahit
Nah, Sobat Tasindo, bagian ini sering baru disadari setelah prototype selesai.
Bahan awalnya mungkin mampu menghadapi air dengan baik.
Kemudian masuk proses produksi.
Panel dipotong.
Bahan dijahit.
Jarum menembus material berkali-kali.
Hasilnya, terdapat lubang-lubang kecil di sepanjang garis jahitan yang berpotensi menjadi jalur masuk air.
Prinsip yang sama terlihat pada produk teknis GORE-TEX. Mereka menjelaskan bahwa modifikasi atau bordir dapat memengaruhi waterproofness karena jarum membuat lubang dan area tersebut membutuhkan seam sealing.
Produk dry bag Sea to Summit juga tidak hanya mengandalkan kain waterproof. Mereka secara khusus menggunakan double-stitched dan fully taped seams untuk membantu mempertahankan perlindungan terhadap air.
Jadi, kalau kebutuhan Tasindo/TBM adalah membuat tas dengan perlindungan air tinggi, konstruksi jahitan perlu dibahas sejak awal.
Tidak semua tas membutuhkan seam tape. Namun kebutuhan tersebut harus disesuaikan dengan target performa produknya.
4. Cek Zipper, Bukaan, dan Sambungan Panel
Bahan utama bisa bagus. Jahitan bisa rapi.
Lalu air masuk lewat zipper.
Ini bukan kondisi aneh.
YKK bahkan menjelaskan secara eksplisit bahwa zipper AquaGuard mereka merupakan water-repellent zipper, bukan zipper waterproof atau watertight sepenuhnya.
Untuk aplikasi yang memang membutuhkan perlindungan terhadap cairan lebih tinggi, YKK mempunyai lini dan panduan konstruksi berbeda. Pada sistem PROSEAL, misalnya, YKK menjelaskan bahwa jika zipper dijahit ke material, area jahitannya perlu ditutup seam seal tape untuk mencegah kebocoran cairan atau udara.
Karena itu, pada tas custom perhatikan juga:
-
posisi zipper;
-
bentuk bukaan;
-
sambungan antar-panel;
-
zipper end;
-
titik masuk webbing;
-
dan konstruksi bagian bawah.
Tas dengan zipper tepat menghadap ke atas tentu menerima paparan hujan berbeda dengan zipper yang terlindungi oleh flap.
Detail desain kecil seperti ini bisa berpengaruh besar terhadap bagaimana tas menghadapi air.
5. Sesuaikan Level Perlindungan dengan Cara Tas Akan Digunakan
Tidak semua tas harus mempunyai konstruksi seperti dry bag.
Kalau kebutuhan produknya adalah tas seminar yang sebagian besar digunakan di dalam ruangan, spesifikasinya tentu berbeda dengan tas pekerja lapangan yang sering terkena hujan.
Begitu juga dengan:
ransel sekolah, tas laptop komuter, slingbag harian, waistbag outdoor, atau tas touring.
Sebelum memilih material, tentukan skenario penggunaannya.
Apakah tas hanya perlu membantu menghadapi:
percikan ringan?
perjalanan singkat saat gerimis?
hujan dalam perjalanan naik motor?
atau
paparan air yang jauh lebih berat?
Dry bag memberi contoh yang cukup jelas tentang perbedaan level kebutuhan. Sea to Summit memadukan kain waterproof dengan roll-top closure, taped seams, dan pada model tertentu reinforced seams serta coating tambahan.
Tentunya konstruksi seperti itu tidak perlu diterapkan pada setiap tas custom.
Justru tujuan awalnya harus jelas agar spesifikasi tidak berlebihan maupun kurang.
Jangan Lupakan Bobot dan Fleksibilitas Material
Ada satu konsekuensi lain ketika mengejar perlindungan air: karakter material bisa berubah.
Coating atau laminasi tertentu dapat memengaruhi:
ketebalan, fleksibilitas, tekstur, bobot, dan bagaimana bahan membentuk tas.
Artinya, material dengan perlindungan air paling tinggi belum tentu otomatis menjadi pilihan paling sesuai untuk desain.
Misalnya tas yang ingin dibuat sangat ringan dan fleksibel mungkin membutuhkan pendekatan berbeda dari ransel kerja yang ingin mempertahankan bentuk.
Karena itu, Sobat Tasindo, jangan menilai material dari waterproofness saja.
Lihat juga bagaimana bahan terasa ketika:
ditekuk, dilipat, dijahit, dipasang zipper, serta dibentuk menjadi prototype.
Cara Lebih Aman Memilih Bahan Waterproof untuk Tas Custom
Sebelum masuk produksi massal, gunakan urutan sederhana berikut:
-
tentukan aktivitas pengguna;
-
tentukan level paparan air yang realistis;
-
cek jenis coating atau treatment material;
-
evaluasi zipper dan konstruksi jahitan;
-
buat prototype;
-
lakukan pengujian air pada produk jadi, bukan hanya pada kain;
-
periksa bagian dalam untuk mengetahui dari mana kelembapan masuk.
Langkah terakhir cukup penting.
Kalau prototype mengalami rembesan, jangan langsung menyalahkan bahan utama. Bisa saja sumbernya berasal dari zipper, sambungan bottom panel, atau garis jahitan.
Kesimpulan
Sebelum memilih bahan waterproof untuk tas, pahami bahwa kemampuan menghadapi air tidak hanya berasal dari kain.
Ada lima hal utama yang perlu diperhatikan: jenis perlindungan permukaan, coating atau konstruksi material, jahitan, zipper dan sambungan, serta kebutuhan penggunaan akhirnya.
Produk waterproof teknis pun mengandalkan kombinasi beberapa elemen seperti waterproof fabric, seam tape, dan sistem closure khusus—bukan hanya satu jenis material.
Jadi, Sobat Tasindo, sebelum bertanya:
“Bahan mana yang paling waterproof?”
lebih baik mulai dengan:
“Seberapa besar perlindungan air yang benar-benar dibutuhkan tas ini?”
Dari situ, pemilihan material dan konstruksi untuk produksi Tasindo/TBM bisa dibuat jauh lebih tepat.
Kami melayani pembuatan tas custom untuk kantor, event, dan komunitas, Ingin tas custom dengan logo perusahaan? Solusi tas custom berkualitas untuk kebutuhan bisnis Anda – pesan hari ini.


