Pernah merasa bingung karena tas disebut menggunakan bahan waterproof, tetapi setelah terkena hujan cukup lama bagian dalamnya tetap terasa lembap? Reaksi pertama biasanya langsung menyalahkan bahannya.
“Katanya waterproof, kok masih kemasukan air?”
Padahal, masalahnya belum tentu terletak pada permukaan kain. Sebuah tas terdiri dari banyak bagian: material utama, jahitan, resleting, sambungan panel, bukaan kompartemen, hingga konstruksi bagian bawah. Walaupun material utamanya mampu menahan air, titik-titik lain masih dapat menjadi jalur masuknya air.
Jadi, Sobat Tasindo, sebelum menganggap bahan waterproof gagal bekerja, ada satu prinsip penting yang perlu dipahami: bahan waterproof dan tas waterproof adalah dua hal yang berbeda.
Table of Contents
ToggleBahan Tahan Air Belum Tentu Membuat Seluruh Tas Kedap Air
Ketika sebuah material mempunyai coating, laminasi, atau membran yang mampu menahan penetrasi air, kemampuan tersebut berlaku pada materialnya. Masalahnya, material tersebut kemudian harus dipotong dan dijahit untuk menjadi sebuah tas. Saat proses produksi berlangsung, muncul berbagai titik sambungan baru.
Misalnya:
-
lubang bekas jarum;
-
garis jahitan;
-
sambungan antar-panel;
-
zipper;
-
ujung zipper;
-
lubang tali;
-
dan berbagai titik konstruksi lainnya.
Produk dry bag yang benar-benar dirancang menghadapi air menunjukkan betapa pentingnya konstruksi ini. Sea to Summit, misalnya, menggunakan kain dengan spesifikasi waterproof sekaligus double-stitched dan fully taped seams serta roll-top closure pada lini dry bag mereka. (seatosummit.com) Artinya, kain saja belum cukup.
1. Lubang Jarum Bisa Menjadi Jalur Masuk Air
Bayangkan selembar bahan tahan air yang masih utuh.
Air sulit melewati permukaannya.
Kemudian bahan tersebut dijahit.
Jarum menembus kain berkali-kali sepanjang garis sambungan. Lubangnya memang sangat kecil, tetapi pada paparan air yang cukup lama atau bertekanan, area jahitan berpotensi menjadi titik masuk kelembapan.
Itulah mengapa tas atau perlengkapan yang membutuhkan tingkat perlindungan air lebih tinggi sering menggunakan seam tape atau metode sealing lainnya.
Sea to Summit, misalnya, secara khusus mencantumkan double stitching dan tape-sealed seams pada konstruksi dry bag waterproof mereka. (seatosummit.com)
Jadi, jika sebuah ransel dibuat dari bahan tahan air tetapi jahitannya tidak memiliki perlakuan khusus, kemampuan tas menghadapi hujan belum tentu sama dengan kemampuan kainnya.
2. Resleting Sering Menjadi Titik yang Terlupakan
Nah, Sobat Tasindo, ini salah satu bagian yang sering luput.
Badan tas mungkin menggunakan material coated. Tetapi kompartemennya tetap harus dibuka menggunakan zipper.
Air dapat berkumpul pada area zipper ketika tas terkena hujan.
Bahkan zipper yang memang dirancang memiliki kemampuan menahan air belum tentu sepenuhnya kedap.
YKK secara eksplisit menjelaskan bahwa AquaGuard, zipper dengan lapisan polyurethane film untuk meningkatkan kemampuan menahan air, bukan merupakan zipper yang sepenuhnya waterproof. YKK juga menyarankan pengujian kualitas sesuai aplikasi penggunaannya. (ykkfastening.com)
Jadi, penggunaan zipper dengan tampilan tertutup atau berlapis bukan otomatis berarti air tidak mungkin masuk.
3. Air Bisa Masuk dari Sambungan Panel
Ransel jarang dibuat dari satu lembar material utuh.
Ada panel depan, belakang, samping, dasar, kompartemen, dan berbagai detail tambahan yang kemudian disambungkan. Semakin kompleks konstruksinya, semakin banyak pula titik sambungan.
Misalnya air mengalir dari panel depan ke bawah. Air kemudian berhenti di dekat garis jahitan antara badan dan bottom panel. Jika area tersebut terus terpapar, kelembapan bisa mencari jalur melalui titik konstruksi yang paling lemah.
Karena itu, desain produk yang benar-benar mengejar kemampuan waterproof biasanya memikirkan seluruh sistem konstruksi, bukan sekadar jenis kain.
4. Water-Repellent, Water-Resistant, dan Waterproof Jangan Disamakan
Istilah terkait air juga sering digunakan terlalu bebas. Material dengan treatment DWR atau durable water repellent, misalnya, dirancang agar air membentuk butiran dan lebih mudah bergulir dari permukaan.
Namun, DWR bukan satu-satunya komponen yang menentukan waterproofness.
GORE-TEX menjelaskan bahwa DWR sendiri tidak permanen. Pemakaian, kotoran, deterjen, sunscreen, dan berbagai kontaminan dapat mengurangi kemampuan permukaan untuk membuat air membentuk butiran. (gore-tex.com)
Patagonia juga membedakan antara DWR pada permukaan dan bagian membran yang berperan dalam waterproofing produknya. (patagonia.com) Walaupun referensi tersebut membahas apparel teknis, prinsipnya membantu memahami bahwa permukaan yang membuat air membentuk butiran dan lapisan yang menghambat penetrasi air adalah dua hal yang tidak selalu sama.
5. Coating Bisa Mengalami Perubahan Seiring Pemakaian
Tas tidak berada dalam kondisi baru selamanya.
Material mengalami:
lipatan, gesekan, tekanan, panas, kelembapan, pencucian, hingga kontak dengan berbagai permukaan.
Treatment atau lapisan tertentu juga dapat berubah seiring penggunaan.
Karena itu, kemampuan menghadapi air pada tas yang baru diproduksi belum tentu identik setelah digunakan dalam waktu lama.
YKK bahkan menjelaskan bahwa kondisi pencucian tertentu dapat merusak bagian film pada zipper AquaGuard dan mengurangi kemampuan menahan airnya. (ykkfastening.com)
Ini alasan lain mengapa klaim seperti “100% waterproof selamanya” sebaiknya dihindari tanpa adanya pengujian khusus.
Lalu Seperti Apa Tas yang Benar-Benar Dirancang Menghadapi Air?
Lihat konstruksi dry bag sebagai contoh.
Produk seperti Sea to Summit Lightweight Dry Bag menggunakan kombinasi:
-
kain dengan waterproof rating;
-
roll-top closure;
-
double stitching;
-
taped seams;
-
dan konstruksi yang memang dirancang untuk mengurangi jalur masuk air. (seatosummit.com)
Pada model lain bahkan digunakan welded seams, yaitu panel yang disambungkan tanpa mengandalkan konstruksi jahitan biasa. Sea to Summit menyebut radio-frequency welded seams sebagai salah satu metode sealing untuk material laminated kelas menengah hingga berat. (seatosummit.com)
Jadi, tas yang dirancang sebagai dry bag memang berbeda konstruksinya dari ransel harian biasa.
Apakah Ransel Harian Harus Dibuat Seperti Dry Bag?
Tidak juga.
Kembali ke kebutuhan pengguna.
Untuk commuting, sekolah, seminar, kantor, atau merchandise perusahaan, targetnya mungkin bukan membuat tas yang dapat menghadapi kondisi ekstrem.
Bahan dengan coating yang membantu menghadapi percikan atau hujan ringan bisa jadi sudah relevan.
Jika perlindungan perlu ditingkatkan, beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
-
menggunakan material yang sesuai;
-
memilih konstruksi zipper yang lebih terlindungi;
-
menambahkan zipper flap;
-
menggunakan seam sealing jika desain dan proses produksinya memungkinkan;
-
menyediakan rain cover;
-
membuat kompartemen elektronik lebih terlindungi;
-
dan melakukan pengujian prototype sebelum produksi massal.
Yang penting adalah spesifikasi disesuaikan dengan target penggunaan.
Kesimpulan
Jadi, kenapa bahan waterproof tetap bisa kemasukan air?
Karena kemampuan material menahan air hanya satu bagian dari sistem tas.
Air masih dapat masuk melalui jahitan, lubang jarum, zipper, sambungan panel, bukaan, atau konstruksi lainnya. Produk yang benar-benar dirancang waterproof bahkan membutuhkan taped atau welded seams dan sistem closure khusus untuk meningkatkan perlindungannya. (seatosummit.com)
Jadi, Sobat Tasindo, ketika menentukan material tas custom, jangan berhenti pada pertanyaan:
“Bahannya waterproof atau tidak?”
Tanyakan juga:
“Bagaimana konstruksi seluruh tas menghadapi air?”
Karena terkadang kainnya memang mampu menahan air—tetapi air masuk lewat jalan lain.
Kami melayani pembuatan tas custom untuk kantor, event, dan komunitas, Ingin tas custom dengan logo perusahaan? Solusi tas custom berkualitas untuk kebutuhan bisnis Anda – pesan hari ini.


